Membagongkan


Suatu ketika seorang anak kecil pergi ke sebuah rumah tua. Beberapa saat setelah ia mengetuk pintu rumah itu, keluarlah sang tuan rumah dan mempersilahkannya masuk. Anak itu bertanya,
“Mengapa kamu mengijinkan aku masuk rumahmu? Padahal kita tidak saling mengenal.”
“Disini aku tidak punya teman, tidak ada yang mau mengunjungi aku. Namun tiba-tiba kamu mengetuk pintu rumahku dan aku sangat senang.”
“Rumahmu nampak tua, namun isi rumahmu ini nampaknya tidak ada barang yang usang dan tua.”
“Ya, memang demikian. Namun cobalah mendekat., lihat, dan sentuhlah barang itu.”

Kemudian anak itu menyentuh beberapa barang yang ada di dalam rumah itu dan kemudian melihat telapak tangannya yang penuh debu. Kemudian tuan rumah tadi berkata,
“Mata bisa menipu pandangan kita, membuat otak kita berpikir bahwa segalanya dalam keadaan baik bila mata melihat itu baik adanya. Namun tidak dengan tangan, ia berusaha membuktikan bahwa apa yang nampak baik sesungguhnya tidak semuanya dalam keadaan baik.”
“Namun, tuan, bukankah mata adalah panca indera yang utama?”
“Ya, benar. Apa yang kita miliki memang tidak sempurna, oleh karena itu kita percaya bahwa rahmat Tuhan membantu kita untuk itu.”
Anak itu terdiam....

(Satu jam) Kemudian dia bertanya,
“Tuan, apakah maksud dari semua itu?”
Tuan rumah itu tidak menjawab, karena ia tertidur menanti anak kecil tadi yang hanya terdiam membisu!
Setelah ia terbangun, ia mengambil kaca mata yang tadinya ia letakkan di atas meja.
“Astaga!”, betapa kagetnya ia karena tidak ada sedikitpun debu yang menempel pada kaca matanya ataupun pada meja itu. Dengan heran ia melihat sekeliling ruangan yang kinclong dari jauh. Bahkan benda-benda yang berwarna putih sungguhlah so putih so bersih. Kemudian matanya tertuju pada anak kecil tadi yang sedang memegang sebuah kanebo. Di sampingnya berdiri seorang perempuan setengah baya. Anak kecil itu berkata kepada perempuan setengah baya itu,
“Buk, ibuk, mana lagi yang harus saya bersihkan?”
“Sudah-sudah, sekarang kamu makan dulu. Ibu nyiapin makan buat kakek.”
Mendengar percakapan itu, tuan rumah tadi tersadar bahwa anak kecil itu adalah cucunya!
Ia kemudian berpikir bahwa ia selama ini sudah pikun!
Kemudian ia menghampiri anak kecil tadi dan berkata,
“Cucuku! Sudah makan belum?”
Anak kecil itu hanya terdiam mlongo...(cengoh dan sejenisnya).  Namun perempuan setengah baya tadi berkata,
“Sudahlah, namanya juga pikun. Anak pembantu dikira cucu sendiri.”
Kemudian karena sedih, kakek tadi berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak pikun dengan sebuah pernyataan,
“Ibu, aku anakmu yang hilang.”
Ibu-ibu setengah baya itu tercengang dan kemudian ia berkata dalam hati,
“Apakah aku juga pikun?”



Comments

Popular Posts